• Antara Aku, Kau, dan Tuhan

     


               Ini adalah kisah sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta, tetapi harus kandas di tengah jalan karena si Bil memilih masuk biara. Konon di sebuah desa yang terpencil, hidup sepasang anak muda yang saling mencintai. Nama mereka adalah Zara dan Bil. Mereka berdua tengah mengenyam pendidikan di SMA, kelas XII. Sejak pertama kali masuk sekolah, Bil terpana dengan kecantikan Zara, gadis desa yang begitu anggun. Parasnya yang elok membuat siapa saja yang memandangnya seketika jatuh hati. Sorot matanya yang tajam, rambutnya yang terurai menjadikan Zara sebagai wanita yang diidealkan laki-laki di sekolahnya. Tanpa sepengetahuan Bil, Zara juga diam-diam menaruh perasaan padanya. Dengan segenap keberanian, pada suatu hari ketika senja beranjak ke peraduannya, Bil mencurahkan isi hatinya kepada Zara. Tanpa membuang kesempatan, Zara menyatakan ‘ya’ atas cinta Bil. Dengan demikian, mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Senja menjadi saksi bisu cinta mereka. Di persimpangan jalan itu, di bawah cahaya matahari yang temaram, sepasang kekasih ini memahat cinta di sanubari.

            Hari-hari mereka lalui dengan penuh sukacita. Sebentar lagi, mereka akan menyelesaikan pendidikan di jenjang SMA. Pada suatu petang, Bil mengajak Zara berdiri di persimpangan jalan sembari menikmati senja yang mulai raib di balik gunung. “Kau adalah keindahan. Melihatmu adalah melihat keindahan yang terbentang luas”. “Kau adalah zara  (keindahan) yang manohara (memikat hati), yang tak pernah usai diringkas pun diringkus dalam aksara, yang senantiasa imortal dalam memori”. Kalimat ini membuncah begitu saja dari mulut Bil. Sesungging senyum muncul di wajah Zara. Kemudian lengang. Sebagaimana dulu Bil mengumpulkan segenap keberanian untuk mengungkapkan cintanya kepada Zara, kini hal yang sama juga dia buat. Tiba-tiba, Bil menggenggam tangan Zara dan hendak menyudahi petualangan cinta mereka dengan alasan bahwa Bil masuk biara. Sore itu, bukan hanya Zara yang meneteskan air mata lara, tetapi senja yang mengintip di balik gunung itu juga ikut terbawa suasana. Di persimpangan jalan yang sama, Bil mengakhiri episode cintanya demi ‘Cinta yang hakiki’. Dia memutuskan untuk masuk biara. Sudah menjadi suatu hal yang lumrah dalam petualangan cinta bahwasannya cinta itu selalu indah di awal tetapi sakit di akhir. Inilah paradoks cinta.

            Secuil kisah di atas begitu menggugah rasa. “Separuh dari nafas Zara barangkali pergi mengembara bersama Bil”. Rasanya sakit ketika sedang berusaha untuk mencintai seseorang tetapi harus dihadapkan dengan kenyataan seperti ini. Bertolak dari hal inilah yang membuat Paulo Coelho menyatakan demikian: “satu-satunya cara untuk tidak menderita adalah janganlah mencintai. Cinta membawa penderitaan, dan penderitaan adalah ekspresi yang paling hakiki dari cinta”. Tetapi mampukah manusia hidup tanpa cinta? Ketiadaan cinta adalah ketiadaan makna hidup. Ketiadaan makna hidup membuat hidup tidak layak dihidupi. Dari kisah di atas kita belajar bahwa Tuhan bisa “memanggil” kita dalam situasi apapun. Jika Tuhan sudah memanggil, tidak ada kekuatan apapun yang mampu menghalanginya. Sebagai konsekuensinya, kita akan kehilangan banyak hal, termasuk orang yang kita cintai. Ditengah hiruk pikuk dan carut marut kehidupan yang penuh enigma ini, penting bagi kita mengasah ketajaman hati untuk mendengar bisikan Tuhan yang datang memanggil. Dia memanggil kita dengan cara yang lembut, seperti semilir angin yang bertiup. Dia tidak datang dalam “kegaduhan” dan kedahsyatan angin topan serta hingar-bingar dunia ini. Dia datang seperti angin sepoi-sepoi basah seperti yang dialami Elia di atas Gunung Karmel. Untuk mencapai hal ini, penting bagi kita untuk masuk pada steel point atau situasi hening.

    (Trisno Sudin)

  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog