![]() |
GEMA SABDA: MENJADI GARAM DAN TERANG (Mat 5: 13-16-Injil Hari Minggu Biasa V)
Saudara-saudara yang terkasih dalam Kristus ...
Injil pada Hari Minggu Biasa V ini, mengajak kita semua umat beriman untuk
menjadi garam dan terang bagi dunia. Garam dan terang adalah sesuatu yang tidak
asing lagi dalam kehidupan harian kita. Kita tahu bahwa garam sangat penting
sebagai bahan penyedap masakan. Tanpa adanya garam, sayur dan lauk akan menjadi
tawar dan tidak enak dimakan.
Sebagai orang beriman,
kita pun diajak untuk menjadi garam. Sebagaimana garam menjadikan makanan yang
tawar menjadi terasa enak, demikian pula kehadiran kita di tengah masyarakat
harus membuat orang lain merasa lebih nikmat, lebih semangat dan senang. Jangan
sampai kehadiran kita di tengah sesama tidak berpengaruh apa-apa demi kebaikan
sesama apalagi dapat membuat orang menjadi sakit hati.
Umat beriman yang
terkasih...
Selain menjadi garam, kita juga diharapkan menjadi terang bagi sesama.
Terang adalah sesuatu yang menghalau kegelapan. Kegelapan dapat menyimbolkan
situasi dosa atau kejahatan. Selain itu orang yang sedang mengalami persoalan
atau masalah dalam hidup juga sering diidentikan dengan masa-masa suram atau
kegelapan.
Dunia kita dewasa ini dipenuhi dengan aneka
persoalan. Banyak di antara kita yang sedang mengalami konflik dalam hidup. Di
tengah situasi hidup manusia yang demikian kita dipanggil untuk menjadi terang
bagi sesama. Kita harus menjadi sang terang bagi semua orang yang mengalami
masa-masa suram, yang memiliki masalah dalam hidup. Kehadiran kita harus dapat
membawa perubahan dari yang gelap menjadi terang, bukan sebaliknya kita
menjadikan yang gelap menjadi lebih pekat, bahkan lebih buruk lagi jika
kehadiran kita justru menghantar orang dari yang terang masuk ke dalam
kegelapan. Kehadiran kita tidak boleh menjadi kendala bagi orang lain melainkan
harus membawa orang keluar dari persoalan yang dihadapinya.
Sebagaimana dalam Injil, kita sebagai pelita (sang terang), tidak boleh ditempatkan di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian, sehingga menerangi semua orang dalam ruangan. Bakat dan kemampuan yang kita miliki tidak boleh disembunyikan di bawah gantang atau hanya demi kepentingan diri sendiri, tetapi hendaknya dibagikan kepada sesama di sekitar kita. Banyak di antara kita yang sekarang ini sedang mengalami kegelapan dalam hidup dan sejauh hemampuan kita diajak untuk dapat membantu mereka. Inilah tugas kita sebagai seorang Kristen. Namun satu hal yang tidak boleh dilupakan sebagaimana yang ditekankan dalam ayat terakhir dari Injil ini, bahwa apa yang telah kita buat untuk membantu orang lain bukan dimaksudkan agar kita dapat disenangi oleh orang lain dan menjadi terkenal karena kebaikan kita, namun semua kebaikan yang kita lakukan adalah untuk kemuliaan Bapa di Surga. Mampukah kita menjadi garam dan terang bagi sesama? *** Fr. Dasrimin
TAJUK:
Apabila engkau mengangkat tanganmu
Memohon, berdoa dan berserah diri...
Maka Tuhan akan turun tangan
Membantu dan menyelamatkanmu....
Tetapi, bila engkau mau turun tangan sendiri,
Maka Tuhan akan angkat tangan
Terhadap setiap persoalan hidupmu
*** Fr. Jimy
SERBA-SERBI: Doa Salam Maria
Doa Salam Maria sebagian diambil dari Injil Lukas sendiri, sebagian lagi tambahan (entah siapa yang mengarang). Menurut Encyclopedia Britanicca, bagian pertama doa itu yaitu “Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu”, berasal dari Luk 1: 38 dan sudah masuk ke dalam liturgi Gereja sejak abad IV. Lalu bagian keduanya: “Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus”, berasal dari Luk 1: 42, yang ditambahkan pada bagian pertama tadi pada abad XI. Selanjutnya bagian terakhir: “Santa Maria Bunda Allah doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin”, adalah tambahan kemudian yang mulai dimasukan pada abad XVI atau XV. Rumusan resmi doa Salam Maria ini terjadi pada tahun 1568. (HIDUP, 22 Nov 1998)
PERCIK: RASA TAWAR KETIKA DALAM GELAP
Sejenak aku termenung di hadapan cermin tua yang setia
menemani aneka perjuangan hidupku. Teringat secuil pengalaman ketika berada di
tempat aku dilahirkan. Tanpa hiruk pikuk bunyi kendaraan ataupun detak-detak
langkah seluruh penghuni jagat. Sebuah malam yang menemaniku dan berbuah hingga
aku di bawa ke tempat yang berbeda, yang membuat diriku merasa tertantang. Ya…situasi malam itu, di hari itu pada
tahun-tahun yang telah pergi menciptAkan sejumlah alunan suka dan duka hidupku.
Malam itu aku sedang menatap barisan kata yang menjanjikan cita untuk masa
depan. Berbekal kaleng bekas bersumbu batang gelagah dan minyak tanah hasil
dari mengemis, akhirnya malam itu dan malam-malam berikutnya aku dapat merajut
cita untuk masa depanku yang sekarang sedang aku jalani. Segala usaha akan aku
lakukan tatkala waktu yang sama terulang kembali di hari berikutnya tanpa
keluhan atau rasa putus asa. Itulah terang
yang mendatangkan serpihan semangat untuk bertekun dalam cita-cita. Hal
yang sama pasti dilakukan oleh semua orang yang hidup pada zamanku dan pada
tempat yang tak berbeda denganku.
Pernahkah terbayang dalam benak kita saat-saat dimana
kita duduk, berdiri ataupun sedang bercanda tetapi tanpa adanya terang? Saat
itulah kita kehilangan segalanya, pegangan, konsentrasi bahkan sesama kita yang
ada bersama kita terluput dari pandangan. Tatapan menjadi kosong dan pada saat
itulah keegoan kita muncul dan ditonjolkan, ada nada yang mempersalahkan orang
lain. Kita hanya dapat menatap suatu kekosongan dan dari sebuah kekosongan itu
kita perlahan-lahan lupa akan sesama. Rasa tawar dalam gelap itu akan hadir.
Kelemahan sebagai manusia terkuak dan ketakberdayaan terlahir. Seperti
pengalaman masa lalu, ketika gelap kita harus segera mencari terang dan terang
itu adalah diri kita sendri dengan menciptakan rasa yang mengasinkan suasana.
Kita mesti menjadikan terang yang mampu menerangi dan garam yang mampu
menghilangkan rasa tawar. Saat yang tepat untuk menilai bahwa kita menjadi
terang dan garam adalah disaat kita berada dalam gelap yang memiliki rasa
tawar. Saat gelappun kita dapat melihat sesama karena disana ada usaha untuk
menemukan mereka. Terang dan garam yang sesungguhnya ada pada Kristus sendiri,
maka bercerminlah pada Kristus seperti aku bercermin pada masa laluku. *** Fr.
Jimy
TOKOH KITA: ST. SKOLASTIKA
Mula-mula
Skolastika tinggal bersama orangtuanya. Tetapi kemudian ia bermukim di dekat
Monte Kasino, di sebuah biara saudaranya yang menjadi abbas. Atas petunjuk
Benediktus, Skolastika mendirikan banyak biara untuk wanita. Setahun sekali
kedua bersaudara ini bertenu muka. Pada kesempatan terakhir sesudah sehari
penuh mengadakan sharing rohani, Skolastika mendesak Benediktus supaya tidak
pulang malam itu. Sebab masih banyak yang ingin dibeberkannya. Agaknya ia telah
merasa bahwa itulah pertemuan terakhir bagi mereka. Tetapi Benediktus tak mau
melanggar peraturan bara. Karena itu ia tetap berkeras hati untuk pulang. Namun
Skolastika tetap berusaha meluluhkan hati saudaranya. Maka ia menunduk dan
berdoa. Tiba-tiba bertiuplah angin kencang dan kilat sambar-menyambar. Sebentar
kemudian turun hujan badai, sehingga mau tak mau Benediktus mesti tinggal
bersamanya semalam dan melanjutkan pembicaraan mereka. Tiga hari kemudian
wanita suci itu dipanggil Tuhan. Benediktus melihat jiwa saudarinya naik ke
surga bagaikan seekor burung merpati. Ia tak putus-putusnya mengucapkan syukur
atas rahmat Tuhan bagi saudaranya itu dan atas segala karunia yang boleh mereka
alami berdua. Jenasahnya dipindahkan ke Monte Kasino dan dikuburkan dalam makam
yang sudah disiapkan oleh Benediktus untuk dirinya. (Ensiklopedi Orang Kudus, p. 282)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar