• Repost Wartel Edisi Perdana (6-12 Februari 2011)




    GEMA SABDA: MENJADI GARAM DAN TERANG (Mat 5: 13-16-Injil Hari Minggu Biasa V)

                  Saudara-saudara yang terkasih dalam Kristus ...

                Injil pada Hari Minggu Biasa V ini, mengajak kita semua umat beriman untuk menjadi garam dan terang bagi dunia. Garam dan terang adalah sesuatu yang tidak asing lagi dalam kehidupan harian kita. Kita tahu bahwa garam sangat penting sebagai bahan penyedap masakan. Tanpa adanya garam, sayur dan lauk akan menjadi tawar dan tidak enak dimakan.

                  Sebagai orang beriman, kita pun diajak untuk menjadi garam. Sebagaimana garam menjadikan makanan yang tawar menjadi terasa enak, demikian pula kehadiran kita di tengah masyarakat harus membuat orang lain merasa lebih nikmat, lebih semangat dan senang. Jangan sampai kehadiran kita di tengah sesama tidak berpengaruh apa-apa demi kebaikan sesama apalagi dapat membuat orang menjadi sakit hati.

                  Umat beriman yang terkasih...

    Selain menjadi garam, kita juga diharapkan menjadi terang bagi sesama. Terang adalah sesuatu yang menghalau kegelapan. Kegelapan dapat menyimbolkan situasi dosa atau kejahatan. Selain itu orang yang sedang mengalami persoalan atau masalah dalam hidup juga sering diidentikan dengan masa-masa suram atau kegelapan.

    Dunia kita dewasa ini dipenuhi dengan aneka persoalan. Banyak di antara kita yang sedang mengalami konflik dalam hidup. Di tengah situasi hidup manusia yang demikian kita dipanggil untuk menjadi terang bagi sesama. Kita harus menjadi sang terang bagi semua orang yang mengalami masa-masa suram, yang memiliki masalah dalam hidup. Kehadiran kita harus dapat membawa perubahan dari yang gelap menjadi terang, bukan sebaliknya kita menjadikan yang gelap menjadi lebih pekat, bahkan lebih buruk lagi jika kehadiran kita justru menghantar orang dari yang terang masuk ke dalam kegelapan. Kehadiran kita tidak boleh menjadi kendala bagi orang lain melainkan harus membawa orang keluar dari persoalan yang dihadapinya.

    Sebagaimana dalam Injil, kita sebagai pelita (sang terang), tidak boleh ditempatkan di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian, sehingga menerangi semua orang dalam ruangan. Bakat dan kemampuan yang kita miliki tidak boleh disembunyikan di bawah gantang atau hanya demi kepentingan diri sendiri, tetapi hendaknya dibagikan kepada sesama di sekitar kita. Banyak di antara kita yang sekarang ini sedang mengalami kegelapan dalam hidup dan sejauh hemampuan kita diajak untuk dapat membantu mereka. Inilah tugas kita sebagai seorang Kristen. Namun satu hal yang tidak boleh dilupakan sebagaimana yang ditekankan dalam ayat terakhir dari Injil ini, bahwa apa yang telah kita buat untuk membantu orang lain bukan dimaksudkan agar kita dapat disenangi oleh orang lain dan menjadi terkenal karena kebaikan kita, namun semua kebaikan yang kita lakukan adalah untuk kemuliaan Bapa di Surga. Mampukah kita menjadi garam dan terang bagi sesama? *** Fr. Dasrimin

    TAJUK:

    Apabila engkau mengangkat tanganmu

    Memohon, berdoa dan berserah diri...

    Maka Tuhan akan turun tangan

    Membantu dan menyelamatkanmu....

    Tetapi, bila engkau mau turun tangan sendiri,

    Maka Tuhan akan angkat tangan

    Terhadap setiap persoalan hidupmu

    *** Fr. Jimy


    SERBA-SERBI: Doa Salam Maria

                Doa Salam Maria sebagian diambil dari Injil Lukas sendiri, sebagian lagi tambahan (entah siapa yang mengarang). Menurut Encyclopedia Britanicca, bagian pertama doa itu yaitu “Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu”, berasal dari Luk 1: 38 dan sudah masuk ke dalam liturgi Gereja sejak abad IV. Lalu bagian keduanya: “Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus”, berasal dari Luk 1: 42, yang ditambahkan pada bagian pertama tadi pada abad XI. Selanjutnya bagian terakhir: “Santa Maria Bunda Allah doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin”, adalah tambahan kemudian yang mulai dimasukan pada abad XVI atau XV. Rumusan resmi doa Salam Maria ini terjadi pada tahun 1568. (HIDUP, 22 Nov 1998)


    PERCIK: RASA TAWAR KETIKA DALAM GELAP

    Sejenak aku termenung di hadapan cermin tua yang setia menemani aneka perjuangan hidupku. Teringat secuil pengalaman ketika berada di tempat aku dilahirkan. Tanpa hiruk pikuk bunyi kendaraan ataupun detak-detak langkah seluruh penghuni jagat. Sebuah malam yang menemaniku dan berbuah hingga aku di bawa ke tempat yang berbeda, yang membuat diriku merasa tertantang.  Ya…situasi malam itu, di hari itu pada tahun-tahun yang telah pergi menciptAkan sejumlah alunan suka dan duka hidupku. Malam itu aku sedang menatap barisan kata yang menjanjikan cita untuk masa depan. Berbekal kaleng bekas bersumbu batang gelagah dan minyak tanah hasil dari mengemis, akhirnya malam itu dan malam-malam berikutnya aku dapat merajut cita untuk masa depanku yang sekarang sedang aku jalani. Segala usaha akan aku lakukan tatkala waktu yang sama terulang kembali di hari berikutnya tanpa keluhan atau rasa putus asa. Itulah terang  yang mendatangkan serpihan semangat untuk bertekun dalam cita-cita. Hal yang sama pasti dilakukan oleh semua orang yang hidup pada zamanku dan pada tempat yang tak berbeda denganku.

    Pernahkah terbayang dalam benak kita saat-saat dimana kita duduk, berdiri ataupun sedang bercanda tetapi tanpa adanya terang? Saat itulah kita kehilangan segalanya, pegangan, konsentrasi bahkan sesama kita yang ada bersama kita terluput dari pandangan. Tatapan menjadi kosong dan pada saat itulah keegoan kita muncul dan ditonjolkan, ada nada yang mempersalahkan orang lain. Kita hanya dapat menatap suatu kekosongan dan dari sebuah kekosongan itu kita perlahan-lahan lupa akan sesama. Rasa tawar dalam gelap itu akan hadir. Kelemahan sebagai manusia terkuak dan ketakberdayaan terlahir. Seperti pengalaman masa lalu, ketika gelap kita harus segera mencari terang dan terang itu adalah diri kita sendri dengan menciptakan rasa yang mengasinkan suasana. Kita mesti menjadikan terang yang mampu menerangi dan garam yang mampu menghilangkan rasa tawar. Saat yang tepat untuk menilai bahwa kita menjadi terang dan garam adalah disaat kita berada dalam gelap yang memiliki rasa tawar. Saat gelappun kita dapat melihat sesama karena disana ada usaha untuk menemukan mereka. Terang dan garam yang sesungguhnya ada pada Kristus sendiri, maka bercerminlah pada Kristus seperti aku bercermin pada masa laluku. *** Fr. Jimy


    TOKOH KITA: ST. SKOLASTIKA (10 Februari)

    Mula-mula Skolastika tinggal bersama orangtuanya. Tetapi kemudian ia bermukim di dekat Monte Kasino, di sebuah biara saudaranya yang menjadi abbas. Atas petunjuk Benediktus, Skolastika mendirikan banyak biara untuk wanita. Setahun sekali kedua bersaudara ini bertenu muka. Pada kesempatan terakhir sesudah sehari penuh mengadakan sharing rohani, Skolastika mendesak Benediktus supaya tidak pulang malam itu. Sebab masih banyak yang ingin dibeberkannya. Agaknya ia telah merasa bahwa itulah pertemuan terakhir bagi mereka. Tetapi Benediktus tak mau melanggar peraturan bara. Karena itu ia tetap berkeras hati untuk pulang. Namun Skolastika tetap berusaha meluluhkan hati saudaranya. Maka ia menunduk dan berdoa. Tiba-tiba bertiuplah angin kencang dan kilat sambar-menyambar. Sebentar kemudian turun hujan badai, sehingga mau tak mau Benediktus mesti tinggal bersamanya semalam dan melanjutkan pembicaraan mereka. Tiga hari kemudian wanita suci itu dipanggil Tuhan. Benediktus melihat jiwa saudarinya naik ke surga bagaikan seekor burung merpati. Ia tak putus-putusnya mengucapkan syukur atas rahmat Tuhan bagi saudaranya itu dan atas segala karunia yang boleh mereka alami berdua. Jenasahnya dipindahkan ke Monte Kasino dan dikuburkan dalam makam yang sudah disiapkan oleh Benediktus untuk dirinya. (Ensiklopedi Orang Kudus, p. 282)

  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog