(Oleh: Fr. Yosep Hendrikus Reu, O.Carm)
Pernahkah kita merasa hidup, tetapi
tidak sungguh-sungguh hadir? Hari-hari berjalan seperti biasa. Tugas
diselesaikan, relasi dijalani, bahkan doa-doa tetap diucapkan. Namun, di suatu
titik yang sunyi entah di malam hari atau di sela kesibukan, muncul satu
pertanyaan yang tidak mudah dihindari: Apakah saya sungguh menjadi diri saya
sendiri? Pertanyaan ini sederhana, tetapi mengganggu. Ia tidak berteriak,
tetapi berbisik pelan di dalam hati. Dan justru karena itu, ia sering kita
abaikan.
Di zaman ini, menjadi diri sendiri
bukanlah perkara mudah. Kita hidup di tengah dunia yang begitu ramai dengan
suara. Suara itu meliputi tuntutan untuk berhasil, dorongan untuk diakui, dan
godaan untuk tampil sempurna. Tanpa sadar, kita mulai membangun identitas
berdasarkan apa yang diharapkan orang lain. Kita belajar tersenyum ketika harus
kuat, dan tampak kuat ketika sebenarnya rapuh. Lalu perlahan, kita kehilangan
sesuatu yang paling mendasar yakni diri kita sendiri. Banyak orang tidak
benar-benar hidup sebagai dirinya, tetapi sebagai versi yang diterima oleh
lingkungan. Kita menjadi apa yang diinginkan dunia bukan apa yang dipanggil
oleh hati terdalam kita. Di sinilah krisis itu bermula yakni bukan karena kita
tidak memiliki identitas, tetapi karena kita menjauh dari identitas yang
sejati.
Seorang filsuf Denmark, Soren
Kierkegaard, pernah mengatakan bahwa keputusasaan yang paling dalam bukanlah
ketika seseorang menderita, melainkan ketika ia tidak mau menjadi dirinya
sendiri. Ada sesuatu yang tragis di sana yakni manusia bisa hidup, tetapi dalam
bentuk yang bukan dirinya (Tjaya,
2004). Namun, jalan kembali kepada diri sendiri tidaklah
mudah. Ada kecemasan, ketakutan dan kesunyian. Ketika seseorang mulai jujur
pada dirinya, ia akan menyadari betapa rapuhnya dirinya. Ia melihat luka-luka
yang selama ini ditutupi. Ia merasakan kegelisahan yang selama ini diredam. Dan
di titik itu, muncul godaan untuk kembali bersembunyi kembali menjadi peran
yang aman, daripada menjadi diri yang nyata.Tetapi justru di sanalah titik
baliknya. Kecemasan bukanlah tanda bahwa kita tersesat. Ia bisa menjadi tanda
bahwa kita sedang berada di ambang kejujuran. Bahwa kita mulai melihat diri
kita apa adanya, tanpa topeng. Momen ini bukan kebetulan. Ini adalah undangan. Undangan
untuk berhenti sejenak, masuk ke dalam keheningan, dan berjumpa dengan diri
sendiri bukan diri yang dibentuk oleh dunia, tetapi diri yang dikenal oleh
Tuhan.
Dalam tradisi Karmel, keheningan
bukan sekadar tidak berbicara. Keheningan adalah ruang di mana segala kepalsuan
runtuh. Di sana, kita tidak lagi bisa menyembunyikan diri. Kita berdiri apa
adanya dalam situasi diri yang rapuh, terbatas, tetapi nyata. Dan justru di
sana, Tuhan hadir. Bukan sebagai hakim yang menghakimi, tetapi sebagai kasih
yang menerima. Seorang penulis dan sejarawan Inggris, Thomas Carlyle mengatakan
Silence is the element in which great things fashion themselves (Thomas, 2000). Keheningan adalah tempat di mana
hal-hal besar dibentuk. Hal besar dapat diartikan sebagai refleksi tentang
perubahan diri (transformasi). Dalam keheningan, kita mulai memahami bahwa
menjadi diri sendiri bukan berarti menjadi sempurna. Menjadi diri sendiri
berarti berani jujur. Berani mengakui siapa kita dengan segala kelemahan, luka, dan harapan
yang belum terpenuhi. Iman, dalam hal ini, bukan sekadar soal percaya. Ia
adalah keberanian untuk menyerahkan diri untuk mengatakan: “Tuhan, inilah saya
apa adanya.”
Dan mungkin, itulah langkah pertama
menuju keotentikan. Bukan langkah yang besar. Bukan sesuatu yang dramatis.
Tetapi langkah yang jujur. Karena pada akhirnya, hidup yang sejati bukanlah
hidup yang tampak hebat di mata orang lain, melainkan hidup yang selaras dengan
panggilan terdalam kita hidup yang dijalani di hadapan Tuhan. Maka, jika suatu
hari kita merasa kehilangan arah, jangan buru-buru mencari jawaban di luar. Masuklah
ke dalam. Beranilah tinggal sejenak dalam keheningan. Dan dengarkan. Mungkin,
di sana di tempat yang paling sunyi, kita justru akan menemukan kembali siapa
diri kita sebenarnya.
Referensi:
Thomas, C. (2000). Sartor Resartus. University of
California Press.
Tjaya, T. H. (2004). Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri.
Kepustakaan Populer Gramedia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar