Kesalahan dan kegagalan terbesar sebuah komunitas negara
ialah ketika tidak mampu memilih serta menetukan seorang pemimpin atau leader
secara bijak. Persoalan seputar menentukan seorang leader yang
memenuhi kriteria umum pemimpin sejati semisalnya, beritergritas, empati,
bertanggung jawab, kredibilitas dan masih banyak lainnya merupakan sesuatu yang
sungguh amat penting dan tentunya harus menjadi perhatian bersama. Hal ini
berkenaan dengan situasi dan gaya kepemimpinan modern saat ini dengan kualitas
dan standarisasi pemimpinnya yang rendah dan jauh dari kata layak serta
cenderung bersifat anomali. Karena itu fenomena ini acapkali menjadi tematisasi
yang kerap dihadirkan di ruang publik untuk menilik dan mencari akar penyebabnya.
Persoalan ini kian rumit dan memiliki tendensi timbulnya
patologi psikologis kolektif dalam diri manusia, yakni perasaan kecewa karena
telah salah memilih seorang pemimpin yang tidak sesuai dengan harapan rakyat.
Perasaan itu muncul di saat massa mulai menyadari bahwa kebijakan-kebijakan
yang dibuat oleh pemimpin dalam hal ini politikus tidak sesuai dengan harapan
rakyat. Hal ini memang sungguh disayangkan dan hendakya dijadikan sebagai bahan
refleksi bagi generasi berikutnya, bahwa memilih seorang pemimpin harus
benar-benar berdasarkan kualitas-kualitas yang dimilikinya. Akan tetapi, realita
yang sering terjadi ialah bahwa individu kerap memilih calon hanya berdasarkan
unsur kepentingan pribadi. Problematisasi perihal penentuan seorang pemimpin kerapkali
ditentukan oleh berbagai faktor, salah satu diantaranya ialah nepotisme.
Individu memilih calon bukan lagi berdasarkan parameter kualitas diri dan
kemampuan dalam memimpin tetapi lebih kepada persoalan privat, apakah dia yang
akan saya pilih nantinya memiliki kontribusi bagi saya atau tidak. Hal-hal
seperti keuntungan material serta
keuntungan solidaritas berupa ganjaran status sosial merupakan pemicu
utama di mana kemudian individu berusaha untuk mengejarnya sehingga kebaikan
bersama atau common good diabaikan. Lebih lagi individu kerap condong
memperhatikan ranah privatnya ketimbang kepentingan ruang publik dan
kebaikan kolektif sehingga pada akhirnya
memicu dekadensi marwah nilai hidup bersama dalam komunitas negara. Persoalan
ini semakin sulit diatasi lantaran calon pemimpin atau politikus memainkan taktik
kelas atas yakni dengan membius nalar massa dengan janji-janji manis yang
tawarkan. Janji-janji itulah yang kemudian meninabobohkan rakyat dari
kesadaraanya sehingga maksud terselebung dari politikus tidak dipahami dengan
baik. Dan hal inilah yang dialami oleh masyarakat akar rumput. Bagi masyarakat
akar rumput pemimpin yang merakyat, adil, bijaksana dan sukses adalah pemimpin
yang berhasil memenuhi kebutuhan dasar hidup mereka, misalnya menyediakan
bansos, PKH dan lain sebagainya. Maka tidak heran jika banyak pemimpin yang
berhasil lolos dalam pemilihan umum karena berhasil menarik hati dan seluruh
diri mereka. Secara de facto situasi ini di dukung dengan presentase pemilih
terbanyak ialah masyarakat kelas bawah. Artinya suara-suara masyarakat akar
rumputlah yang berhasil menggolkan para politikus. Lantas jika bercermin dari
realitas demikian, apakah pantas bila mereka disebut sebagai penyebab
kehancuran sebuah komunitas bernama negara? Tentu saja jawabannya tidak
demikian. Mereka tidak bisa disalahkan. Karena mereka hanya ingin kehidupan
mereka lebih baik dari yang sebelumnya. Justru sebaliknya penyebab suatu negara
mengalami kehancuran ialah para pemimpin dan politikus yang tidak becus dalam
menjalankan tugasnya, misalnya budaya korupsi.
Menyikapi persoalan di atas diperlukan sejumlah instrumen
atau sistem yang mampu menuntun massa agar tidak salah dalam memilih pemimpin. Dalam konteks ini seorang filsuf dari zaman
klasik Plato memberikan satu gagasan penting. Ia menyatakan bahwa kepemimpinan
yang baik ialah kepemimpinan yang berlandaskan pada tiga unsur jiwa yaitu,
tubuh, jiwa dan roh. Seorang pemimpin tidak hanya memerlukan tubuhnya dalam menentukan
sebuah keputusan, ataupun sebaliknya hanya mengandalkan jiwa dan pikiran
sebagai alat untuk menentukan kebenaran. Tetapi bagi Plato yang tepat ialah
jika ketiganya berjalan beriringan dan seimbang. Jika ketiganya digunakan dalam
menentukan sebuah keputusan niscaya kebenaran dan keadilan akan tercipta.[*] Mengacu pada konsep Plato
tentang pemimpin yang baik, maka hal yang perlu diperhatikan oleh pemilih ialah
rekam jejak dari sang kandidat. Tetapi bahwasanya rekam jejak kariernya saja
tidak cukup untuk menilai dan hal itu bisa saja diakali dan dimanipulatif oleh
orang lain, maka faktor tambahan yang perlu digunakan ialah adanya sikap
analisis yang disertakan dengan pertimbangan secara intensif. Sikap analisis
yang dimaksudkan ialah dengan melihat kualitas diri dari kadidat, misalnya
aspek kejujuran, rendah hati, memiliki visi yang jelas, dan tentunya harus bisa
memberi teladan.
[*] Jimmi
Pindan Pute, Pute Hengki Pindan, Piter Palembangan, “Kajian
PraktisKarakteristik Jiwa SeorangPemimpin Berdasarkan Filsafat Tiga Unsur Jiwa
Manusia Plato”, Jurnal Kepemimpinan Kristen dan Pemberdayaan Jemaat, 4:2
(Desember 2023), hlm. 113.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar