SEMBULAN
sepoi malam menusuk-nusuk pori-pori. Tubuh senjamu menggigil. Apa mungkin
karena faktor usia atau karena memang cuaca malam ini. Nostalgia itu selalu
hadir bersama usia senjamu. Ragamu telah rapuh, tak seperti yang kau duga. Bumi
seakan mengolokmu. Apakah kau peduli? Tidak! Kau terlihat tak peduli.
Hasratmu dikebiri lalu dipaksa untuk sadar diri. Memaksa diri untuk tersenyum walau hatimu sedang kelut. Berjalan sambil memperhatikan setiap wilayah di kampung itu. Senyumanmu berhasil kau manipulasi demi mereka yang kau sebut sebagai prioritas. Kau merawat mereka seperti kau menyayangi keluargamu. Bahkan, mereka tidak mengetahui jika di hari itu kau sedang rapuh. Kadang mereka mengejekmu dengan mengatakan “Kau itu pria bodoh yang enggan memiliki segalanya dan mendapat banyak beban”. Kau tersenyum seakan tak mendengar keluhan itu. Kau membuat dirimu polos hanya untuk sesuatu yang tak dapat kau terima balasannya di dunia ini. Kau memilih untuk mengalah dari mereka dan mencintai mereka melebihi keluargamu. Kadang kau merenung sambil mengatakan dalam benak bahwa kau hanyalah seorang penakut yang takut mengingkari janjimu di hadapan-Nya.
“Romo, apa yang membuatmu bertahan sejauh ini?”, tanya Ratna, karyawati tua di paroki yang selalu datang dengan pertanyaan yang mungkin sulit untuk kau pikirkan. Kau selalu merenung sambil tersenyum dengan terpaksa menjawab “itulah nasibku”. Kadang, orang-orang di kampung berpikir bahwa orang sepertimu terlihat tak memiliki beban karena tertipu dengan senyumanmu. Kau berhasil menyembunyikan bebanmu dengan senyuman. Kau belajar untuk tersenyum sejak kejadian tiga puluh lima tahun lalu ketika ragamu masih kuat dan kau mengerti arti pengorbanan. Ya, kejadian dirimu bersama wanita malam yang mengubah hidupmu. Wanita yang mengakui bahwa dirimu adalah istimewa dihadapan-Nya.
...
Namaku
Hawa. Aku hanyalah seorang wanita malam yang mungkin nyaman dengan ritme
kegiatanku di atas ranjang. Kadang aku bertanya, dosa apa yang membuat diriku
dan keluarga memiliki nasib miskin seperti ini? Nista apa yang kuperbuat
sehingga aku dan keluargaku diasingkan dari kampungku? Mungkin jawaban yang
pasti kutemukan ialah karena aku dan keluarga ditakdirkan untuk miskin. Miskin
mungkin adalah alasan tepat yang menjadikan kami buah bibir yang selalu dibahas
oleh orang-orang sekampungku.
Cibiran
orang sekampung tentang aku dan keluargaku memang tak pernah usai. Cibiran itu
semakin mengamuk ketika aku memutuskan untuk mencari pekerjaan dan memanfaatkan
tubuhku sebagai alat untuk bekerja. Awalnya aku malu dan minder untuk melakukan
semuanya. Aku merasa bahwa diriku hanyalah seorang wanita yang tak punya harga
diri. Aku selalu malu saat memajangkan tubuhku telanjang di depan setiap pria
yang datang. Bahkan, sejujurnya aku menangis dan menyerah ketika pertama kali
aku digerayangi oleh seorang pelangganku. Tetapi, ingatan akan keluargaku
membuat aku berani meninggalkan semuanya. Aku sadar bahwa sebagai anak sulung
dalam keluarga, aku bertanggungjawab untuk membiayai biaya pendidikan ketiga
adikku. Perlu kuakui, sejak kematian mama lima tahun lalu, keluargaku sangat
menderita. Bapak terpaksa tak bekerja setelah tervonis oleh dokter mengidap
penyakit kanker darah (Leukimia) stadium pertama. Aku berusaha menghilangkan
egoku dan menjadi tulang punggung untuk keluargaku. Aku bekerja untuk membiayai
pengobatan bapak dan ketiga adikku yang masih menempuh pendidikan di sekolah
dasar.
Aku selalu
merasa bersalah setiap subuh setelah pulang kerja. Bahkan, aku merasa bahwa aku
adalah wanita yang paling berdosa di bumi ini. Perasaan bersalah yang kumiliki
kian hari kian memuncak. Perluh kuakui, sejak menjadi pecur, aku tak pernah
lagi meluangkan waktuku untuk pergi berdoa di Gereja. Aku selalu membuat diriku
padat dengan pekerjaanku. Perasaan bersalah ini seakan menyiksaku setiap hari.
Aku selalu bersembunyi ketika melihat tetanggaku dan teman-teman seusiaku
berangkat ke gereja.
Perasaan
bersalah membuatku ingin menyerah. Ingin rasanya, aku berhenti dari
pekerjaanku. Aku selalu membatinkan doaku dalam hening. Aku berdoa agar Tuhan
melindungi keluargaku. Aku berdoa agar dosaku diampuni-Nya. Namun, sejak malam
itu aku merasa Tuhan telah menambah beban untuk menghukum diriku. Ya malam itu,
mungkin terlalu awal untuk mengingatnya. Ketika teleponku berdering dan dengan
terpaksa aku mengangkatnya. Saat itu,
aku masih dalam keadaan telanjang bersama pelangganku. Kupaksakan diri dan
mengisyaratkan pelangganku untuk bersabar.
Kuraih telepon itu. Terpampang di layar depan handphone-ku, Rina. Ya,
Rina salah satu sahabat dekatku di kampung. Aku bertanya-tanya dalam benak
“Mengapa Rina meneleponku malam-malam seperti
ini”? Kupaksakan diri mengangkat teleponku.
“Halo Hawa” Kata Rina.
Aku membalasnya
tanpa basa-basi “Ada apa Rina. Tumben sekali meneleponku malam ini”. Rina
menjawab dan tampaknya nada suaranya terlihat sangat serak seperti orang yang
sedang menangis. “Bapakmu hawa, Bapakmu” tambah Rina. Aku semakin terkesima dan
penasaran. Aku bertanya “Kenapa dengan bapak?”
Rina
menjawab “Bapakmu tak sadarkan diri”. “Cepat pulang Hawa, cepat!”, tambah Rina.
Aku membisu sejenak. Linangan air mata membasahi pipiku. Aku beranjak, ku raih
pakaianku yang tergeletak di ranjang itu. Tanpa pamit dengan pelangganku, aku
berlari keluar dari kamar dan beranjak pulang ke rumah. Saat itu, emosiku
memuncak. Aku tiba di rumah dan melihat banyak orang telah mengerumuni rumahku.
Dari kejauhan, terdengar rintihan teriakan adik-adikku. Aku berlari menghampiri
pekarangan rumah dan kulihat ayahku yang telah dikerumuni banyak orang. Ayahku
tertidur. Kuraih tangannya, kupastikan masih ada nadi yang berdenyut. Semuanya
nahas. Padahal baru beberapa menit saja, ayahku telah kaku. Wajahnya tak
menyerupai dirinya lagi. Banyak orang menangis dan sejak saat itu aku merasa
tak punya siapa-siapa lagi di bumi ini. Tuhan begitu jahat bagiku. Aku tak
punya banyak uang untuk biaya penguburan bapak. Aku bingung. Ingin sekali aku
mengeluarkan suara teriakanku dengan sekencangnya. Uang sisa dari gajiku habis
membiayai cuci darah dan pengobatan bapak.
“Hawa”. Aku berpaling. Kulihat tanta
Ratna, adik kandung dari bapakku menghampiriku. Tanta Ratna adalah satu-satunya
keluarga yang masih tersisa. Tanta Ratna hanya seorang janda yang seingatku
bekerja sebagai karyawati di parokiku. Tanta Ratna mendekati mulutnya dekat
pada kupingku “Cepat, kamu pergi ke Gereja dan menghampiri romo untuk
memintanya memimpin ibadat pemakaman bapak besok” ujarnya. Aku masih terdiam tak merespon perkataannya.
Linangan air mata berderai terus membasahi kelopak mataku. Melihatku yang tak
merespon perkataannya, tanta Ratna sedikit membesarkan volume suaranya “Pergi
ke paroki, cepat minta seorang pastor untuk memimpin ibadah pemakaman almarhum
ayahmu esok, ayahmu terlihat sangat kaku”. Dengan kondisi mata yang lebam dan
wajah yang pucat aku mengalah dan kuturuti perintah tanta Ratna.
...
Malam
itu, kau terlelap tidur mungkin lelah seharian melayani umat di paroki. Kau
terbangun dengan suara teriakan seorang wanita. Kau memberanikan dirimu keluar
dan menemui wanita itu. Tampak, wajahmu terlihat sangat kecapaian. Wanita itu
menghampirimu “Selamat malam romo, maaf mengganggu”, ujar wanita itu. Kau
seakan ragu dengan penglihatanmu. Kau maju dan mendekati wanita itu mungkin
untuk memastikan bahwa seorang yang berada di depanmu itu benar-benar seorang
wanita. Dengan terpaksa kau menjawab seadanya “iya selamat malam juga. ada apa
ya?” “Romo aku mau minta romo memimpin ibadat pemakaman alamarhum bapakku esok”
ujar wanita itu. Kau termenung menatap
wanita itu. Esok sesuai schedulemu kau akan mengikuti pertemuan bersama
beberapa pastor paroki di Ibu Kota. Kau tak mungkin juga tak menghadiri
pertemuan itu. Tiket untuk pertemuan itu telah kau beli. Kau juga sudah
mengatur jadwalmu untuk pertemuan itu. Tanpa basa-basi kau menyampaikan
jadwalmu kepada wanita itu. Wanita itu kelihatan sedih sekali. Ia termenung.
Kau menatap wanita itu dengan teliti. Tiba-tiba, wanita itu tersungkur di
hadapanmu dan dengan berlutut ia berkata “Romo
tolong bantu aku”. Dengan sangat cepat kau meminta wanita itu berdiri
dan mengabulkan permintaannya. Kau rela membatalkan kunjunganmu itu dan
menerima permintaan wanita itu. Wanita itu menambah lagi “Romo, aku mau
mengaku”. Kau terdiam sejenak. Tanpa berkompromi kau mengambil jubahmu dan
mendengarkan pengakuan wanita itu. Kau mendengar setiap perkataannya dengan
teliti.
...
Aku
sangat bersyukur dapat menjumpai seorang pastor yang mengerti dan mengabulkan
permintaanku. Setelah tanta Rina menyuruhku beranjak ke paroki untuk meminta
pastor paroki memimpin misa, aku berjumpa dengan pastor parokiku yang baik
hati. Ia rela membatalkan jadwal kunjungannya ke Ibu kota hanya untuk memimpin
ibadah penguburan ayahku. Aku masih diliputi perasaan bersalah pada bapak
karena belum sempat membahagiakannya dengan pekerjaan haramku. Aku juga merasa
bersalah karena belum mengakui dosaku. Ya, dosa yang selama ini kulakukan
bersama puluhan orang pelangganku. Saat itu, aku memutuskan untuk mengaku
dosaku dihadapan romo itu. Romo itu sangat teliti mendengarkan setiap kata yang
kuucapkan. Kuakui segala pekerjaanku dan keadaan ekonomi keluargaku yang
terpojok di antara orang-orang sekampungku. Di hadapannya kuakui semuanya itu
dengan jujur. Setelah mendengar nasehat dan darinya, aku merasa seakan
segalanya telah sirna. Aku merasa bahwa diriku seakan menjadi orang yang paling
jujur sejagat ini. Aku bersyukur masih ada orang seperti romo itu. Hal yang tak
teripikirkan terjadi, romo itu ingin membantuku mengurus semua kebutuhan dan
perlengkapan yang kubutuhkan untuk pemakaman almarhum ayah esok. Aku sangat
bergembira waktu itu walau di saat yang tak tepat bagiku. Aku memeluk romo itu
sekedar mengucapkan Terima kasih. Romo itu menatapku dan membalas dengan
senyuman.
...
Kau
mengingat saat itu . Ya, saat dimana kau dipeluk oleh wanita itu usai pengakuan
dosa yang kau berikan baginya. Kau terlihat gembira. Entah apa yang merasukimu
kau merasa nyaman mendengar setiap keluhan wanita itu. Kau begitu gembira
bersamanya. Saat pemakaman ayahnya, kau adalah orang pertama yang setia mendampinginya. Usai pemakaman, kau
memeluknya saat ia mendekatimu sekedar menceritakan setiap masa kelam yang ia
lalui. Kau tak dapat berbohong bahwa
wanita itu terlihat cantik saat ia mendekatimu. Kau terkesima melihat wanita
itu. Sejak saat itu, wanita itu telah menjadi tamu harian yang setia datang dan
berkonsultasi menemanimu di pastoran. Ia selalu datang bahkan setiap hari untuk
bercerita bersamamu.
...
Sejak
pemakaman ayah dan terlebih lagi ketika mengaku dosa dan menjumpai romo yang
baik hati itu, aku merasa seperti aku dilahirkan dalam pribadi yang lain. Aku
telah mendapat pekerjaan yang layak yang kuperoleh berkat usaha romo itu. Romo
itu mendaftarkanku pada sebuah perusahaan milik keluarganya dan menyuruhku
bekerja sebagai karyawan di tempat itu. Aku terkesima dengan romo itu. Entah
mengapa, aku merasa ingin selalu berada bersama romo itu. Setelah pulang kerja,
aku selalu menyempatkan diri bersama romo itu. Sejak saat itu aku merasa bahwa
romo itu adalah orang yang telah membuat aku nyaman melewati hari-hari hidupku.
Ketiga adikku juga selalu akrab dengan romo itu. Adik-adiku telah menjadi
pemuda-pemudi yang cakap. Mereka sibuk megerjakan tugas sekolah dan belajar.
...
Wanita itu membuatmu terkesima. Ia semakin mendekatimu di
pastoran dan akhirnya memintamu untuk menjadi pendamping hidupnya. Apakah arti
semuanya ini? Kau seakan membiarkan hatimu dirasuki dan diisi oleh wajah wanita
itu. Apa keputusanmu? Apakah kau menerimanya?
Tiga puluh tahun usai, kejadian itu memberi lamunan
panjang tuk kau ingat. “Romo, kau harus ingat dengan janjimu. Biarkanlah hatimu
itu diisi oleh mempelai tunggalmu yang demi-Nya telah kau bangun janji dan
kesetiaanmu. Janjimu pada-Nya menuntut keiklasan dan pengurbanan besar.”, ujar
Ratna karyawati tua di parokimu. Kau mendengarnya dan terdiam.
Selesai
Tidak ada komentar:
Posting Komentar