• Ketika Nalar dan Imanmu Disiakan

     
    Oleh: Fr. Yos Reu, O.Carm


    SEMBULAN sepoi malam menusuk-nusuk pori-pori. Tubuh senjamu menggigil. Apa mungkin karena faktor usia atau karena memang cuaca malam ini. Nostalgia itu selalu hadir bersama usia senjamu. Ragamu telah rapuh, tak seperti yang kau duga. Bumi seakan mengolokmu. Apakah kau peduli? Tidak! Kau terlihat tak peduli.

    Hasratmu dikebiri lalu dipaksa untuk sadar diri. Memaksa diri untuk tersenyum walau hatimu sedang kelut. Berjalan sambil memperhatikan setiap wilayah di kampung itu. Senyumanmu berhasil kau manipulasi demi mereka yang kau sebut sebagai prioritas. Kau merawat mereka seperti kau menyayangi keluargamu. Bahkan, mereka tidak mengetahui jika di hari itu kau sedang rapuh. Kadang mereka mengejekmu dengan mengatakan “Kau itu pria bodoh yang enggan memiliki segalanya dan mendapat banyak beban”. Kau tersenyum seakan tak mendengar keluhan itu. Kau membuat dirimu polos hanya untuk sesuatu yang tak dapat kau terima balasannya di dunia ini. Kau memilih untuk mengalah dari mereka dan mencintai mereka melebihi keluargamu. Kadang kau merenung sambil mengatakan dalam benak bahwa kau hanyalah seorang penakut yang takut mengingkari janjimu di hadapan-Nya.

    “Romo, apa yang membuatmu bertahan sejauh ini?”, tanya Ratna, karyawati tua di paroki yang selalu datang dengan pertanyaan yang mungkin sulit untuk kau pikirkan. Kau  selalu merenung sambil tersenyum dengan terpaksa menjawab “itulah nasibku”. Kadang, orang-orang di kampung berpikir bahwa orang sepertimu terlihat tak memiliki beban karena tertipu dengan senyumanmu. Kau berhasil menyembunyikan bebanmu dengan senyuman. Kau belajar untuk tersenyum sejak kejadian tiga puluh lima tahun lalu ketika ragamu masih kuat dan kau mengerti arti pengorbanan. Ya, kejadian dirimu bersama wanita malam yang mengubah hidupmu. Wanita yang mengakui bahwa dirimu adalah istimewa dihadapan-Nya.

    ...

              Namaku Hawa. Aku hanyalah seorang wanita malam yang mungkin nyaman dengan ritme kegiatanku di atas ranjang. Kadang aku bertanya, dosa apa yang membuat diriku dan keluarga memiliki nasib miskin seperti ini? Nista apa yang kuperbuat sehingga aku dan keluargaku diasingkan dari kampungku? Mungkin jawaban yang pasti kutemukan ialah karena aku dan keluarga ditakdirkan untuk miskin. Miskin mungkin adalah alasan tepat yang menjadikan kami buah bibir yang selalu dibahas oleh orang-orang sekampungku.

              Cibiran orang sekampung tentang aku dan keluargaku memang tak pernah usai. Cibiran itu semakin mengamuk ketika aku memutuskan untuk mencari pekerjaan dan memanfaatkan tubuhku sebagai alat untuk bekerja. Awalnya aku malu dan minder untuk melakukan semuanya. Aku merasa bahwa diriku hanyalah seorang wanita yang tak punya harga diri. Aku selalu malu saat memajangkan tubuhku telanjang di depan setiap pria yang datang. Bahkan, sejujurnya aku menangis dan menyerah ketika pertama kali aku digerayangi oleh seorang pelangganku. Tetapi, ingatan akan keluargaku membuat aku berani meninggalkan semuanya. Aku sadar bahwa sebagai anak sulung dalam keluarga, aku bertanggungjawab untuk membiayai biaya pendidikan ketiga adikku. Perlu kuakui, sejak kematian mama lima tahun lalu, keluargaku sangat menderita. Bapak terpaksa tak bekerja setelah tervonis oleh dokter mengidap penyakit kanker darah (Leukimia) stadium pertama. Aku berusaha menghilangkan egoku dan menjadi tulang punggung untuk keluargaku. Aku bekerja untuk membiayai pengobatan bapak dan ketiga adikku yang masih menempuh pendidikan di sekolah dasar.

              Aku selalu merasa bersalah setiap subuh setelah pulang kerja. Bahkan, aku merasa bahwa aku adalah wanita yang paling berdosa di bumi ini. Perasaan bersalah yang kumiliki kian hari kian memuncak. Perluh kuakui, sejak menjadi pecur, aku tak pernah lagi meluangkan waktuku untuk pergi berdoa di Gereja. Aku selalu membuat diriku padat dengan pekerjaanku. Perasaan bersalah ini seakan menyiksaku setiap hari. Aku selalu bersembunyi ketika melihat tetanggaku dan teman-teman seusiaku berangkat ke gereja.

              Perasaan bersalah membuatku ingin menyerah. Ingin rasanya, aku berhenti dari pekerjaanku. Aku selalu membatinkan doaku dalam hening. Aku berdoa agar Tuhan melindungi keluargaku. Aku berdoa agar dosaku diampuni-Nya. Namun, sejak malam itu aku merasa Tuhan telah menambah beban untuk menghukum diriku. Ya malam itu, mungkin terlalu awal untuk mengingatnya. Ketika teleponku berdering dan dengan terpaksa aku mengangkatnya.  Saat itu, aku masih dalam keadaan telanjang bersama pelangganku. Kupaksakan diri dan mengisyaratkan  pelangganku untuk bersabar. Kuraih telepon itu. Terpampang di layar depan handphone-ku, Rina. Ya, Rina salah satu sahabat dekatku di kampung. Aku bertanya-tanya dalam benak “Mengapa Rina meneleponku malam-malam seperti  ini”? Kupaksakan diri mengangkat teleponku.

    “Halo Hawa” Kata Rina.

     Aku membalasnya tanpa basa-basi “Ada apa Rina. Tumben sekali meneleponku malam ini”. Rina menjawab dan tampaknya nada suaranya terlihat sangat serak seperti orang yang sedang menangis. “Bapakmu hawa, Bapakmu” tambah Rina. Aku semakin terkesima dan penasaran. Aku bertanya “Kenapa dengan bapak?”

              Rina menjawab “Bapakmu tak sadarkan diri”. “Cepat pulang Hawa, cepat!”, tambah Rina. Aku membisu sejenak. Linangan air mata membasahi pipiku. Aku beranjak, ku raih pakaianku yang tergeletak di ranjang itu. Tanpa pamit dengan pelangganku, aku berlari keluar dari kamar dan beranjak pulang ke rumah. Saat itu, emosiku memuncak. Aku tiba di rumah dan melihat banyak orang telah mengerumuni rumahku. Dari kejauhan, terdengar rintihan teriakan adik-adikku. Aku berlari menghampiri pekarangan rumah dan kulihat ayahku yang telah dikerumuni banyak orang. Ayahku tertidur. Kuraih tangannya, kupastikan masih ada nadi yang berdenyut. Semuanya nahas. Padahal baru beberapa menit saja, ayahku telah kaku. Wajahnya tak menyerupai dirinya lagi. Banyak orang menangis dan sejak saat itu aku merasa tak punya siapa-siapa lagi di bumi ini. Tuhan begitu jahat bagiku. Aku tak punya banyak uang untuk biaya penguburan bapak. Aku bingung. Ingin sekali aku mengeluarkan suara teriakanku dengan sekencangnya. Uang sisa dari gajiku habis membiayai cuci darah dan pengobatan bapak.

              “Hawa”. Aku berpaling. Kulihat tanta Ratna, adik kandung dari bapakku menghampiriku. Tanta Ratna adalah satu-satunya keluarga yang masih tersisa. Tanta Ratna hanya seorang janda yang seingatku bekerja sebagai karyawati di parokiku. Tanta Ratna mendekati mulutnya dekat pada kupingku “Cepat, kamu pergi ke Gereja dan menghampiri romo untuk memintanya memimpin ibadat pemakaman bapak besok” ujarnya.  Aku masih terdiam tak merespon perkataannya. Linangan air mata berderai terus membasahi kelopak mataku. Melihatku yang tak merespon perkataannya, tanta Ratna sedikit membesarkan volume suaranya “Pergi ke paroki, cepat minta seorang pastor untuk memimpin ibadah pemakaman almarhum ayahmu esok, ayahmu terlihat sangat kaku”. Dengan kondisi mata yang lebam dan wajah yang pucat aku mengalah dan kuturuti perintah tanta Ratna.

    ...

               Malam itu, kau terlelap tidur mungkin lelah seharian melayani umat di paroki. Kau terbangun dengan suara teriakan seorang wanita. Kau memberanikan dirimu keluar dan menemui wanita itu. Tampak, wajahmu terlihat sangat kecapaian. Wanita itu menghampirimu “Selamat malam romo, maaf mengganggu”, ujar wanita itu. Kau seakan ragu dengan penglihatanmu. Kau maju dan mendekati wanita itu mungkin untuk memastikan bahwa seorang yang berada di depanmu itu benar-benar seorang wanita. Dengan terpaksa kau menjawab seadanya “iya selamat malam juga. ada apa ya?” “Romo aku mau minta romo memimpin ibadat pemakaman alamarhum bapakku esok” ujar wanita  itu. Kau termenung menatap wanita itu. Esok sesuai schedulemu kau akan mengikuti pertemuan bersama beberapa pastor paroki di Ibu Kota. Kau tak mungkin juga tak menghadiri pertemuan itu. Tiket untuk pertemuan itu telah kau beli. Kau juga sudah mengatur jadwalmu untuk pertemuan itu. Tanpa basa-basi kau menyampaikan jadwalmu kepada wanita itu. Wanita itu kelihatan sedih sekali. Ia termenung. Kau menatap wanita itu dengan teliti. Tiba-tiba, wanita itu tersungkur di hadapanmu dan dengan berlutut ia berkata “Romo  tolong bantu aku”. Dengan sangat cepat kau meminta wanita itu berdiri dan mengabulkan permintaannya. Kau rela membatalkan kunjunganmu itu dan menerima permintaan wanita itu. Wanita itu menambah lagi “Romo, aku mau mengaku”. Kau terdiam sejenak. Tanpa berkompromi kau mengambil jubahmu dan mendengarkan pengakuan wanita itu. Kau mendengar setiap perkataannya dengan teliti.

    ...

               Aku sangat bersyukur dapat menjumpai seorang pastor yang mengerti dan mengabulkan permintaanku. Setelah tanta Rina menyuruhku beranjak ke paroki untuk meminta pastor paroki memimpin misa, aku berjumpa dengan pastor parokiku yang baik hati. Ia rela membatalkan jadwal kunjungannya ke Ibu kota hanya untuk memimpin ibadah penguburan ayahku. Aku masih diliputi perasaan bersalah pada bapak karena belum sempat membahagiakannya dengan pekerjaan haramku. Aku juga merasa bersalah karena belum mengakui dosaku. Ya, dosa yang selama ini kulakukan bersama puluhan orang pelangganku. Saat itu, aku memutuskan untuk mengaku dosaku dihadapan romo itu. Romo itu sangat teliti mendengarkan setiap kata yang kuucapkan. Kuakui segala pekerjaanku dan keadaan ekonomi keluargaku yang terpojok di antara orang-orang sekampungku. Di hadapannya kuakui semuanya itu dengan jujur. Setelah mendengar nasehat dan darinya, aku merasa seakan segalanya telah sirna. Aku merasa bahwa diriku seakan menjadi orang yang paling jujur sejagat ini. Aku bersyukur masih ada orang seperti romo itu. Hal yang tak teripikirkan terjadi, romo itu ingin membantuku mengurus semua kebutuhan dan perlengkapan yang kubutuhkan untuk pemakaman almarhum ayah esok. Aku sangat bergembira waktu itu walau di saat yang tak tepat bagiku. Aku memeluk romo itu sekedar mengucapkan Terima kasih. Romo itu menatapku dan membalas dengan senyuman.

    ...

               Kau mengingat saat itu . Ya, saat dimana kau dipeluk oleh wanita itu usai pengakuan dosa yang kau berikan baginya. Kau terlihat gembira. Entah apa yang merasukimu kau merasa nyaman mendengar setiap keluhan wanita itu. Kau begitu gembira bersamanya. Saat pemakaman ayahnya, kau adalah orang pertama yang setia  mendampinginya. Usai pemakaman, kau memeluknya saat ia mendekatimu sekedar menceritakan setiap masa kelam yang ia lalui. Kau  tak dapat berbohong bahwa wanita itu terlihat cantik saat ia mendekatimu. Kau terkesima melihat wanita itu. Sejak saat itu, wanita itu telah menjadi tamu harian yang setia datang dan berkonsultasi menemanimu di pastoran. Ia selalu datang bahkan setiap hari untuk bercerita bersamamu.

    ...

               Sejak pemakaman ayah dan terlebih lagi ketika mengaku dosa dan menjumpai romo yang baik hati itu, aku merasa seperti aku dilahirkan dalam pribadi yang lain. Aku telah mendapat pekerjaan yang layak yang kuperoleh berkat usaha romo itu. Romo itu mendaftarkanku pada sebuah perusahaan milik keluarganya dan menyuruhku bekerja sebagai karyawan di tempat itu. Aku terkesima dengan romo itu. Entah mengapa, aku merasa ingin selalu berada bersama romo itu. Setelah pulang kerja, aku selalu menyempatkan diri bersama romo itu. Sejak saat itu aku merasa bahwa romo itu adalah orang yang telah membuat aku nyaman melewati hari-hari hidupku. Ketiga adikku juga selalu akrab dengan romo itu. Adik-adiku telah menjadi pemuda-pemudi yang cakap. Mereka sibuk megerjakan tugas sekolah dan belajar.

    ...

    Wanita itu membuatmu terkesima. Ia semakin mendekatimu di pastoran dan akhirnya memintamu untuk menjadi pendamping hidupnya. Apakah arti semuanya ini? Kau seakan membiarkan hatimu dirasuki dan diisi oleh wajah wanita itu. Apa keputusanmu? Apakah kau menerimanya?

    Tiga puluh tahun usai, kejadian itu memberi lamunan panjang tuk kau ingat. “Romo, kau harus ingat dengan janjimu. Biarkanlah hatimu itu diisi oleh mempelai tunggalmu yang demi-Nya telah kau bangun janji dan kesetiaanmu. Janjimu pada-Nya menuntut keiklasan dan pengurbanan besar.”, ujar Ratna karyawati tua di parokimu. Kau mendengarnya dan terdiam.

                             Selesai

     

                                                                                                                          

     

  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog