• Bukan Tentang Otoritas


    Oleh: Fr. Denis Ndoa, O.Carm







        Mentari pagi mengusik kenyamanan mimpi seorang pria paruh baya bernama “Eli”. Ia terkejut dan tersadar dari mimpinya sambil menatap pelan arloji yang melilit pada tangannya. “Aduh……. mampus aku”. Jam itu terus berdentang seolah memberi isyarat bahwa pria tersebut telah terlambat. Pagi itu suasana belum terusik dengan kebisingan duniawi. Sunyi seolah mencekam pertanda bahwa belum ada satu mahklukpun yang siap untuk bersendawa. Eli bergegas mandi lalu menyiapkan diri. Eli adalah seorang pria yang hidup sebatang kara. Ia tinggal di sebuah biara kecil tempat dimana dia bekerja dan menghabiskan waktunya bersama sapu, alat pel, ember dan lain sebagainya. Kurang lebih sudah 18 tahun ia bekerja di biara tersebut dengan upah yang bisa dikatakan kecil.

        Hari itu adalah hari minggu, hari dimana semua penghuni biara harus berkumpul bersama di sebuah Kapela untuk merayakan misa sesuai dengan aturan yang telah disepakati bersama. Pagi itu Eli seakan-akan lupa. Lekas berkemas ia bergegas lari sambil bergumam dalam hati: “mampus,,,,,,, saya pasti kena marah dari pastor pimpinan”. Ia memang rajin namun dia selalu keliru dengan hal kecil ini. Ini bukan yang pertama ia terlambat melainkan sudah yang kesekian kalinya. Eli bergegas masuk menuju Kapela dan mengambil posisi duduk di sebelah bangku yang kelihatan kosong. Tubuhnya bersimbah keringat seolah-olah ritual mandinya sia-sia belaka. Tubuhnya basah bukan karena diguyur hujan melainkan oleh peluh dan rasa takut yang terus menghantui pikirannya. “Mati su saya…… mati sudah ini”. Berulang kali ia mengucapkan kata itu di dalam hatinya seakan bencana ada di depan matanya.

         Ia membisu sepanjang perayaan ekaristi berlangsung dan tanpa disadari sudah berada di bagian penerimaan komuni. Dengan masih dihantui pikiran yang sama Eli bergegas bangun untuk menyambut tubuh Tuhan. Misapun usai dan dengan cekatan Eli bergegas menemui pastor pimpinan. Dengan ketakutan ia menyodorkan tangannya lalu juga disambut ramah oleh sang pastor. Sang pastor tersenyum lalu mengatakan kepada Eli: “selamat berhari minggu Eli”. Eli membalas senyuman itu lalu bergumam dalam hati: “sepertinya ada yang lain dengan pastor pimpinan”. Kali ini bukan hanya ketakutan yang menghantui pikirannya melainkan juga rasa heran. Seusai peristiwa tersebut Eli Kembali dan mulai menjalankan rutinitasnya sebagai seorang karyawan.

        Hari minggu yang cerah itu berubah menjadi sebuah siksaan bagi Eli. Bukan hanya karena udaranya yang panas melainkan pikiran Eli yang masih dihantui dengan masalah pagi tadi. Ia berbaring diatas kasurnya yang lusuh sambil terus bergumam. Eli tenggelam dalam lamunan yang panjang yang tiba-tiba membawanya pada dunia tidur lelap. Tepat di pukul 12:45 ia dikagetkan oleh suara ketukan pintu dan suara orang memanggil. “selamat siang Eli”. Eli bergegas bangun dari tidurnya dan mengusap matanya untuk menghilangkan jejak rasa kantuknya. Eli berjalan dengan Langkah cepat karena ia tahu dan mengenal suara itu. “selamat siang pastor, tunggu sebentar pastor”. Teriak Eli sambil berlari dan langsung membukakan pintu. “ada apa pastor” ujar Eli dengan mulut gemetar. “Eli kenapa seperti orang yang ketakutan, kau niiii kenapa sebenarnya”. Sang pastor menyambar dengan aksen timurnya. “tidak pastor” sambar Eli sambil menggaruk kepalanya. “silakan keluar, aku akan berbicara denganmu”. Eli bergegas keluar dan mengejar pastor yang telah mendahului dial alu menuju ke sebuah tenda kecil yang terletak dibawah sebuah pohon mangga. “silakan duduk Eli”. Ujar sang pastor sambil menunjuk ke arah tenda tersebut. Eli mulai mengambil posisi duduk bersebelahan dengan pastor tersebut. “ada apa pastor, sepertinya ada hal yang begitu penting untuk dibicarakan, pater mau omong apa”. Tanya Eli dengan nada penasaran. Sang pastor hanya membalas dengan senyum tenpa mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya. Rasa takut Kembali menghantui Eli saat melihat ekspresi sang pastor. Eli mulai menggerutu dan berbicara sendiri dalam hati. “Jangan sampai saya kena pecat ini, mati sudah ini kaalau saya kena pecat sya tinggal dimana lagi ini”. Rasa cemas mulai muncul dalam pikiran Eli sehingga ia seperti tak bisa menahan air matanya yang tiba-tiba saja memenuhi kelopak matanya. Sang pastor yang melihat kejadian tersebut langsung menepuk Pundak Eli lalu berkata: “saya tahu apa yang ada di kau pu pikiran Eli. Sepertinya kau sudah tahu kau puu kesalahan ada dimana. Saya panggil kau kesini bukan untuk menghakimi kau dan saya tidak punya hak sedikitpun untuk bisa menghakimi engkau. Saya tidak mengadili engkau saat ini, saya hanya memanggilmu sebagai saudara untuk berbicara dari hati ke hati”.

        Siang itu adalah siang yang penuh drama, siang dimana Eli sepeti dilema dengan keadaan dirinya. Ia terus mendengar celotehan sang pastor sampai ia lupa bahwa jarum jam telah menunjukan pukul 14:00. Sang pastor berbicara mengenai persaudaraan yang merupakan spirit dari kongregasi mereka. Dengan nada ramah Eli menyambung apa yang dikatakan sang pastor. “Pastor sudah Panjang lebar omong tentang persaudaraan, lalu apa gunanya untuk saya yang hanya sebatas seorang karyawan. Saya memang sudah layak diperlakukan seperti ini, saya ini digaji, saya diberi makan, saya diberi tempat tinggal, lantas apa balasan saya untuk Biara ini. Sepertinya tidak ada dan tidak akan pernah ada pastor”. Sang pastor terperangah dan terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Eli. “Ini seperti sebuah tamparan untuk saya Eli, kenapa kau omong seperti itu. Kau tidak paham dengan persaudaraan Eli, dia tidak hanya berhenti di biara saja Eli, tapi kami berusaha untuk merealisasikannya ke luar biara. Kau kami lihat sebagai saudara, terlepas bahwa kau ini karyawan atau bukan itu urusan kemudian tapi kau adalah ciptaan Tuhan sama seperti kami, kita ini manusia dan layak di mata Tuhan”. “Sauadara itu bukan hanya sekedar kata saja moat, ini tentang rasa cinta. Saudara itu tetntang sebuah aksi aji bukan diam dan mati dalam sunyi. Saudara datang bukan untuk menghakimi, dia datang untuk mencari Solusi dan memberi motivasi, dia datang bukan untuk mengintimidasi tapi untuk merangkul dan saling menguatkan. Saudara hadir bukan saat kita memiliki segalanya melainkan bahkan saat kita tak memiliki apa-apa. Ini bukan tentang materi aji tapi ini tentang rasa cinta itu sendiri”. “Kau itu tetap kami puu saudara apa pun kondisinya. Jadi jangan pernah sungkan untuk berteman dengan kami, intinya adalah kau bukan bawahan”. Eli hanya mampu tunduk dan diam. ”kau itu saudara bukan bawahan, otoritas memang ada tapi bukan untuk menindas”. Tukas sang pastor sekali lagi sambil menepuk pundak Eli lalu bergegas meninggalkan tempat tersebut.

        

  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog